Kategori
umum

WONG SUWEK

Wong suwek.
Ya, wong suwek plesetan dari wong tuwek atau orang tua dalam bahasa Indonesia. Bukan tanpa maksud aku memanggilnya begitu, dengan tingkah laku yang kocak kata penuh canda dan selalu merasa masih muda (padahal umur sudah di ujung senja), kusematkan panggilan akrab wong suwek. Nama sebenarnya sudah lupa, aslinya sih pura2 lupa agar tidak membayar royalti. Wong suwek  akhir2 ini lebih akrab denganku, pura2 akrab atau ada perlu lebih tepatnya. Semenjak dapat hadiah hp s*ms**g (maaf disensor karena belum bayar biaya iklan) dari sebuah undian peralatan dapur, wong suwek selalu menghubungi. Mulai dari install aplikasi instan messenger, sosmed sampai install game. Wong suwek yang merasa jiwanya masih muda atau istilah kerennya puber kedua tak berhenti sampai diinstalkan saja, dia (sebenarnya pingin nulis beliau, tapi kayaknya belum pantas he… he…) juga minta diajari menggunakan facebook dan bbm. Dan walhasil  telpon dan sms akan terus berdering jika keinginannya belum tepenuhi.
Setelah sekian lama menurunkan semua ilmu yang kumiliki, akhirnya wong suwek berhasil menggunakan bbm dan fb yang dimiliki (walaupun fb nya second, maklum harganya murah). Sekarang wong suwek sudah memiliki dunianya sendiri, walaupun tugas dan kewajiban sebagai seekor manusia tetap dipenuhi. Jadi ingat pepatah buah jatuh tak jauh dari keranjangnya, sama seperti wong suwek yang tak jauh berbeda denganku. Dunia maya adalah tempat keduanya berpijak jika lelah dan letih menghampiri usai menjalankan tugas.
Kok wong suwek???
Apa gak ada orang lain??
Kan masih banyak yang bisa ditulis selain wong suwek!
Inilah hebatnya wong suwek, kenapa kok bisa menarik hati untuk menuangkan sebuah tulisan di catatan fb ku yang terhormat. Wong suwek tidak hanya humoris, dia juga penuh canda ( nah lho, apa bedanya brooo?). Lihat wajahnya saja pingin tertawa, apalagi dengar kata2 nya di jamin muntah. Tak pernah ada raut sedih apalagi raut memelas seperti wajah para koruptor di media. Ada uang dia riang, tak ada uang dia ngutang (sama donk dengan kalian).
Pernah satu kali ku tanya “Pak, kok kayaknya gak pernah punya beban, padahal kalau dipikir2 beban sampeyan untuk menghidupi keluarga sangat berat?”.
Jawaban yang diberikan sungguh sangat tidak bijaksana dan tidak mengesankan “Saya pasrah saja mas Andy”.
“Kok pasrah pak? lalu dikemanakan anak dan istri sampeyan?” cecarku lagi
Dan kali ini jawaban yang diberikan lebih tidak bijaksana “Saya pasrah mas, maksudnya saya pasrahkan kepada mertua semua beban dan biaya untuk hidup istri dan anak saya”
Itu salah satu contoh yang membuat saya tertarik membuat tulisan tentang dia. Menyelesaikan tugas dari kantor dengan tanggung jawab dan membantu teman tanpa pamrih adalah contoh lainnya. Meskipun masih banyak yang hal2 positif yang bisa diambil sebagai cerita, mohon maaf jangan paksa saya untuk menulis lagi tentang dia. Bukannya gak mau berbagi, ini lebih dikarenakan dia sekarang sedang dibelakangku dan ikut membaca. Daripada eneg melihat dia ke ge-er an, aku sudahi tulisan ini.

NB: Buat pak suwek, suwun pinjaman dasi untuk ratek dan sumpit untuk prakarya anakku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *